Rabu, 17 Oktober 2012

Pertempuran merah putih manado




Pertempuran Merah Putih di ManadoBerita proklamasi Kemerdekaan Indonesia tersiar juga samapi ke Manado. Rakayat Manadokhususnya para pemuda menyambutnya dengan hangat. Di sisi lain, pasukan NICA untuk mengamankan kepentiangan segera mempersenjatai bekas pasukan KNIL yang menjaditawananan Jepang. Mereka disambut sebagai Pasukan Tangsi Putih.Pada bulan Desember 1945, pasukan Sekutu menyerahkan kekuasaan kota Manado kepada NICA. Stelah mendapat mandate itu, pasukan NIca segera melakukan penagkapan terhadapsejumlah tokoh RI untuk mengamankan kedudukannya RI. Para bekas pasukan KNIL yangmendukung RI dikenal sebagai Pasukan Tangsi Hitam. Para pejuang itu membentuk PasukanPemuda Indonesia (PPI). PPI sering melakukan pertemuan rahasia untuk mengoordinasikankegiatan melawan NICA. Akan tetapi, kegiatan tersebut diketahui NICA. Akibatnya, beberapa pemimpin PPI ditangkap. Senjata pasukan KNIL pendukung RI dilucuti. Namun, tindakan NICAtersebut tidak menyrutkan tekad para pejuang Indonesia. Pada tanggal 14 Febuari 1946, PPImenyerbu NICA dimarkas Tangsi Putih di Teling. Dengan senjata seadanya, PPI mampumelepaskan para tawanan dan melawan komandan NICA dan pasukannya. Secara spontan para pejuang merobek warna riru pada Bendera Belanda di markas itu dan mengibarkan benderaMerah putih. Para pejuang juga berhasil menguasai markas NICA di Tomohon dan Tondano.Para pendukung RI segera membentuk pemerintah sipil. B.W Lapian terpilih sebagai residennya.Berita penegak kedaulatan Indonesia di Manado segera dikirim ke Yogyakarta.
Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 
Oleh Ben Wowor PADA 7 Februari 1946 seluruh rencana telah rampung sampai pada tindakan-tindakan darutatserta pengamanan bilamana terjadi sesuatu kemacetan. Rencana ini telah pula diberitahukankepada BW Lapian dalam suatu rapat rahasia yang diadakan pada hari itu di rumahnya diSingkil, Manado Utara. Juga turut dalam perundingan PM Tangkilisan, juga telah dihubungi NoTicoalu dan dr Tumbelaka. Situasi Markas Besar KNIL di Tomohon senantiasa diberitahukanoleh AS Rombot melalui FW Sumanti yang bertindak sebagai ordonans umum.Pembagian tugas yang ditetapkan oleh Ch Taulu dan SD Wuisan sebagai berikut:1. Kompi-VII dijadikan combat troop, dipimpin Mambo Runtukahu, Yus Kotambunan, GersonAndris, Mas Sitam, Lengkong Item dan Niko Anes. Mereka menguasai dan mengamankan perwira-perwira Belanda KNIL dan NICA.2. Yang pertama harus dikuasai bahan makanan, senjata, mesiu dan pakaian.3. Kompi-148 dibawah pimpinan Wim Waney, dibantu Wim Tamburian, Wangko Sumanti,Frans Lantu, Yan Sambuaga, Bert Sigarlaki, Samel Kumaunang,
Oscar Rumambi, setelah dapatdikuasai tempat-tempat suplai tersebut, harus menjalankan -aksi penangkapan terhadap anggotatentara Belanda dan pejabat-pejabat NICA di rumah mereka.4. SD Wuisan menguasai Kompi-143 dan akan mengawasi kamp tawanan Jepang di Girian-Bitung; Sigar Mende dan Polet Malonda Kompi-144 di Manado dan Suparmin Kompi-142 diTomohon.5. Pengamanan markas besar di Tomohon dan telekomunikasi ditugaskan kepada telegrafis-
markonis AS Rombot yang selanjutnya akan menguasai semua dinas radio. No Tooy menguasai semua dinas telepon dan Maurits Rotinsulu dinas pengangkutan.6. Kurir-kurir istimewa untuk menghubungi pemuda-pemuda di Manado, Tondano dan pedalaman Minahasa adalah No Korompis, Gustaf Sumarauw, Jan Sambuaga dan WimTamburian.Penangkapan di Kalangan Militer Pada 28 Januari 1946, Freddy Lumanauw dan Mantik Pakasi dipanggil Komandan Garnisun,Kapten Blom, dan langsung dibawa ke penjara karena ada laporan bahwa mereka sedangmengatur komplot untuk menggulingkan kekuasaan KNIL di tangan Belanda. Pada 31 JanuariLumanauw dan Mantik dibawa di bawah pengawalan MP ke Tomohon dan langsung diperiksaoleh
Oditur Militer Mr OE Schravendijck. Pada hari itu mereka dikembalikan ke penjara Manadokarena mereka tidak bersedia mengungkapkan sebab dan latarbelakang sehingga mereka mulai berkomplot. Selama dalam tahanan ini mereka diberitahu oleh Frans Korah tentang perkembangan rencana persiapan kup yang diatur oleh Taulu, Wuisan dan Sumanti.Pada 6 Februari 1946 mereka kembali diperiksa di Tomohon, dimana kepada mereka dinyatakanoleh Oditur Militer bahwa sudah diperoleh bukti yang jelas menunjukkan, bahwa mereka pada1944 telah dikirim ke Sulut dengan tugas khusus dari Dr Ratulangi yang kini berada di Makassar untuk melaksanakan revolusi kemerdekaan Indonesia. Lumanauw yakin bahwa mata-mataBelanda telah mengikuti pembicaraan dalam perundingan-perundingan rahasia dari pasukanTubruk dan Schravendijck telah mengadakan pengecekan dengan atasannya di Jakarta. Proses pengusutan ini akan membawa mereka ke sidang mahkamah militer, namun mereka tidak  bersedia menuturkan mission yang diberikan oleh Ratulangi pada waktu mereka diberangkatkandari Jakarta itu. NICA menjadi gelisah karena setelah gerakan-gerakan pemuda berhasil ditekannya, malah tubuhdan aparatnya sendiri, yakni KNIL, telah disusupi oleh musuh-musuh Republik yang berpemerintahan pusat di Jogyakarta.Kemudian pribadi-pribadi Taulu dan Wuisan semakin besar mendapat perhatian dan sorotan dari pimpinan KNIL.
Opsir-opsir Belanda telah beberapa kali mengadakan pertemuan antara mereka sendiri, yakniBlom, Verwaayen, De Leeuw, Molenburgh, Brouwers dan lain-lain untuk menemukan jalan,cara bagaimana mereka dapat menumpas gerakan-gerakan bawah tanah dalam tubuh KNIL,supaya tidak menjalar ke seluruh jajaran KNIL. Mereka semakin bingung, karena setelah penangkapan pemuda-pemuda pada 9 Januari lalu dan kemudian pada 28 Januari Lumanauw danPakasi diamankan di penjara, sebenarnya sudah tidak ada lagi anasir-anasir Republik yangmereka harus takuti.Pada 9 Februari pimpinan KNIL mengambil tindakan pengamanan di kompleks tentara Telingdengan menangkap anggota komplotan Wangko Sumanti, Frans Lantu, Yan Sambuaga dan WimTamburian. Mereka ini dikunci dalam sel Tangsi Putih. Bukti kegiatan mereka, termasuk menghubungi pemuda-pemuda ekstremis dan pejabat-pejabat tertentu yang dicurigai, sudahcukup jelas bagi NICA setelah dicek dengan laporan-laporan yang masuk.
 
 Taulu dan Wuisan Masuk Sel Namun, keadaan menjadi makin tegang. Pada 13 Februari, jam 9 pagi, Furir Taulu dipanggilkomandan Kapten Blom dan setelah senjatanya dilucuti oleh sersan-mayor Brouwers, maka iadimasukkan dalam sel tahanan.Tidak berapa lama Sersan Bisman dipanggil oleh Kapten Blom, tetapi ia tidak ditahan, mungkinkarena ia memiliki tanda jasa dari Tentara Sekutu. Bisman dalam Perang Dunia ke-2 mendapatlatihan intelejen di Australia dan sering turut dalam kapal selam Sekutu untuk dilepaskan di perairan daerah musuh untuk mencari tahu kekuatan tentara Jepang, seperti yang dilakukannya diTarakan dan di Manado pada 1944.Selanjutnya Komandan Kompi VII, Carlier, dipanggil oleh Komandan Korps, Kapten Blom,yang menanyakan kepadanya bagaimana dengan keadaan Kompi VII. Dijawab oleh LetnanCarlier bahwa Kompi VII dapat mengamankan seluruh Sulut, karena prajurit-prajuritnya banyak  berpengalaman dalam perang yang baru lampau, lagipula kompi ini adalah pemberani, namun patuh dan setia pada atasannya.Mambi Runtukahu Memelopori AksiYang memelopori aksi adalah Peleton I: Mambi Runtukahu, Wkl Kmd Regu I, Gerson Andris,Wkl Kmd Regu II, Mas Sitam, Wkl Kmd Regu III, Yus Kotambunan, Kmd Verkenner,Lengkong Item, Angg regu IV dan Wehantouw Verkenner.Kota Manado DikuasaiDi penjara Manado para tahanan nasionalis pada tengah malam itu dengan hati berdebar-debar menunggu saat dimulaikan aksi di Teling. Karena mereka juga telah diberitahu tentang saat danawal aksi ini sebelumnya melalui titipan surat yang disembunyikan dalam makanan. Merekaamat cemas dan hampir saja putus asa ketika mendengar bahwa unsur-unsur pimpinan pemberontakan sudah tertangkap.Ketegangan memuncak ketika pintu besi dari penjara berbunyi gemerincing: Apakah aksi telahgagal dan Belanda akan memperkeras tindakan-tindakan penekanan? Demikianlah Lumanauwdan Pakasi bertanya-tanya. Melalui trali-trali sel tampaklah pada mereka bukanlah Polisi Militer (PM) yang muncul melainkan kawan-kawan Frans Lantu dan Yus Kotambunan. Merekamemasuki halaman penjara dengan menyandang beberapa perlengkapan senjata serta didampingioleh sipir yang membawa kunci-kunci. Semuanya lalu bersorak-sorak gembira. Lumanauw danPakasi diberikan masing-masing senapan dan pistol, karena mereka harus melanjutkan tugasuntuk menyelesaikan aksi kup itu yang tengah berjalan dan masih berbentuk tanda tanya.Kaum nasionalis yang selama ini meringkuk dalam tahanan semuanya dibebaskan. Tampak diantara mereka tokoh-tokoh perintis nasional seperti GE Dauhan, A Manoppo,O H Pantouw, MaxTumbel, Dr Sabu, FH Kumontoy, CP Harmanses, HC Mantiri, NP Somba dan juga pemimpin- pemimpin pemuda BPNI, John Rahasia dan Mat Canon.Komandan Garnisun Manado, Kapten Blom, yang berdiam di Sario dibangunkan oleh ajudannyadengan kata-kata: µ¶Kapten diminta datang segera ke Teling karena keadaan agak berbahaya.

Letnan Verwaayen mendesak agar segera datang!¶¶ Juga ditegaskan oleh ajudannya, bahwa para pengawal sudah siap menunggu di luar dengan sebuah jeep, bahwa perjalanan aman dan penjagaan cukup kuat.Pada subuh hari semua tentara Belanda dimasukkan dalam tahanan di Teling dan selebihnyadibawa ke penjara untuk menggantikan para tahanan nasionalis yang telah dibebaskan.Sang Saka Merah Putih Berkibar Pada jam 03.00 di markas tentara di bukit Teling, sewaktu aksi penangkapan sedang berjalan,maka Wangko Sumanti yang memberikan perintah, mengambil bendera Belanda (merah-putih- biru) yang disimpan di rumah jaga, merobek helai birunya dan menyerahkan bagian dwi-warnakepada Mambi Runtukahu yang sudah siap sebagai inspektur upacara menunggu dekat tiang bendera. Secara hikmat bendera Merah Putih digerek oleh Kotambunan dan Sitam untuk kemudian berkibar pada saat fajar menyingsing di bumi Sulut.Ternyata pasukan-pasukan KNIL yang ada di Tomohon dan Girian masih dikuasai oleh perwira- perwira Belanda dan perlu mendapat penyelesaian dari Manado. Perintah dan persiapandilakukan oleh Wangko Sumanti untuk meneruskan aksi kup ini di Tomohon dan Girian.Tomohon Diserbu: Korban di Kedua Belah Pihak Segera Frans Bisman dan Freddy Lumanauw ditugaskan dengan dua peleton siap tempur untuk menuju Tomohon. Pada jam 04.30 14 Februari mereka berangkat dengan empat kendaraan, yaitu2 jeep dan 2 truck/power. Jeep depan berbendera Merah-Putih dikendarai oleh Frans Bismandengan beberapa pengawal penembak bren, menyusul jeep kedua dengan perlengkapan dan pengawalan yang sama; yang ditempati oleh Freddy Lumanauw.Di luar Kota Manado konvoi ini sedikit mengalami hambatan karena jeep terdepan terjerumusdalam selokan, sehingga agak memakan waktu untuk menariknya, namun tak ada kerusakan apa-apa.Gelaerts, demikian nama sersan Belanda itu, berada di Manado waktu terjadi kup tengah malamdan ia langsung mengendarai motornya ke Tomohon untuk memberitahukan kejadian ini kepadaKomandan De Vries setelah hubungan telepon terputus.Sewaktu mau kembali ke Manado pagi itu dan berada di pompa bensin untuk mengisi minyak ia berpapasan dengan pasukan penyerbu dari Bisman.Ultimatum Kepada Komandan KNILKomandan Polisi Samsuri yang menjadi penghubung antara Pasukan Bisman dan KomandanKNIL De Vries, membawa ultimatum dari Bisman agar De Vries dengan seluruh pasukan- pasukannya di Tomohon ialah Kompi-142 dan satu kompi stafnya menyerahkan diri. Dengandua tangannya diangkat ke atas, Samsuri menempuh jarak duaratus meter lebih menuju keMarkas De Vries, di mana komandan ini sudah siap dengan stellingnya.Samsuri menjelaskan kepada De Vries bahwa pasukan dari Manado telah tiba di persimpangan jalan di depan kantor polisi Tomohon dan meminta
Overste De Vries bersama pasukannya di Tomohon menyerahkan diri.Samsuri kembali untuk menyampaikan jawaban ini dan untuk kedua kalinya Bismanmemerintahkan Samsuri untuk memberitahukan De Vries bahwa pasukan dari Manado akansegera mengadakan serangan.Mendengar akan ultimatum terakhir ini maka De Vries memutuskan dan menyampaikan kepadaSamsuri bahwa ia akan menyerahkan diri bersama pasukan-pasukan di Tomohon, termasuk para penguasa sipil NICA kepada pasukan Bisman.Kup Berhasil dan Penguasa-penguasa Belanda TertawanUpacara penyerahan berlangsung dengan pelbagai campuran perasaan bagi kedua pihak masing-masing. Komandan KNIL itu terharu dan bercucuran air mata ketika bendera merah-putih-birudisobek helai birunya dan dwi-warna Merah-Putih dinaikkan pada tiangnya. Atas permintaanBisman maka De Vries menuju ke kendaraan yang tersedia dan bersama-sama mereka menuju kekantor polisi untuk meneruskan perjalanan ke Manado.Residen Coomans de Ruyter, Komandan NICA, diambil dari tempat kediamannya di rumah sakitRK Gunung Maria, begitu anggota-anggota Staf NICA lainnya yang berada di Kaaten-Tomohondikumpulkan di kantor polisi dan dengan sebuah truk mereka langsung dibawa ke tempat penampungan di Manado.Suatu pasukan kecil di bawah pimpinan Freddy Lumanauw masih harus meneruskan tugasoperasi ke pedalaman Minahasa. Pengemudinya Oscar Pandeiroth menggantikan Alo Porayouwyang telah gugur sebagai seorang pahlawan kemerdekaan dan menjadi pahlawan 14 Februari1946 yang pertama.Suatu peristiwa yang menegangkan yang diceritakan Freddy Lumanauw kemudian, ialah ketikadalam persiapan untuk menyerbu markas De Vries, kedapatan olehnya bahwa peluru-peluru yangdibawa pasukan tidak cocok dengan senjata Lee
Enfield, karena buatan Jepang. Wangko Sumantidi Teling Manado segera dihubungi melalui telepon dan ternyata memang ada kekeliruan dandiakui Sumanti sebagai keteledoran akibat kesibukan pada waktu pasukan disiapkan di malam buta untuk dikirim ke Tomohon. Seandainya ada terjadi penyerbuan dan pertempuran makasenapan-senapan yang dibawa akan tidak berdaya dan tidak ada gunanya.Pengamanan di kota-kota kecamatan di Minahasa disertai dengan penurunan bendera Belandadan diganti dengan penaikan bendera Merah-Putih, berlangsung di instansi-instansi pemerintahdan polisi setempat di bawah pimpinan Freddy Lumanauw. Berturut-turut di Tondano,Remboken, Kakas, Langowan dan Kawangkoan, selesai upacara bendera dilakukan penertibanseperlunya di kalangan pamong-praja dengan mendapat bantuan penuh dari pasukan-pasukan pemuda.Penyelesaian di Kamp Tawanan JepangPada subuh 14 Februari 1945, juga suatu pasukan dari Manado di bawah pimpinan MauritsRotinsulu yang ditugaskan ke Girian untuk menguasai kamp tawanan Jepang, berhasilmenangkap anggota-anggota tentara Belanda di asrama Girian dengan bantuan Samel
Kumaunang dan Hans Lengkoan, namun komandan kampemen tawanan yang bermarkas diWangurer, Letnan Van Emden, bertahan dan tetap menguasai seluruh kamp tawanan itu. Perwiraini tidak mengakui penyerahan pimpinan KNIL kepada pihak pemberontak, sedangkan ia adalahkomandan dari Sekutu. Malah ia sempat menahan seorang anggota pasukan Rotinsulu yang bernama Makalew.Setelah kegagalan ini dilaporkan kepada Taulu, maka Taulu bersama Sumanti pergi ke Sariountuk meminta perintah tertulis dari Kapten Blom buat Van Emden, agar ia segera menyerahkandiri kepada pasukan Sumanti yang akan dikirim ke Girian.Bert Sigarlaki yang adalah ordonans tetap untuk Van Emden diterima untuk masuk ke dalamkampemen dan menemui Van Emden. Setelah surat dari Blom dibacanya, maka surat itudiludahinya dengan melemparkan kata-kata kotor kepada alamat Blom seraya menyentak bahwasemua mereka sebangsa di Manado adalah pengecut dan bukan militer.Kumaunang dan Lengkoan yang menguasai asrama tentara di Girian memikirkan suatu siasatlain untuk menangkap Van Emden, yaitu menunggu saatnya mereka berdua memegang pos dikamp tawanan di lokasi Wangurer.Begitulah pada 17 Februari 1946 pada jam 06.00 pagi kedua pejuang ini masuk dalam kelompok  jaga, seluruhnya terdiri dari 8 orang. Mereka ini sepakat untuk menunjuk Samel Kumaunangyang akan menangkap Van
Emden, mengingat tubuhnya yang besar dan kekar akan dapatmenguasai perwira Belanda itu, bila terpaksa harus adu kekuatan.Tidak lama kemudian muncul komandan itu dengan jeepnya, lengkap dengan senjata dua pistos pada masing-masing pinggangnya dan satu stegun yang disandang. Waktu ia turun darikendaraannya menuju ke pos, Kumauang berseru: 'µKomandan, Green bizonderheden(tidak kurang apa-apa dalam penjagaan), namun disambungnya lagi: µ¶Letnan, kenapa kami tidak dapat jatah rokok dari Manado, apakah saya boleh merokok?¶¶ µ¶
Oh, tentu saja¶¶, jawab Van
Emden,dan tangannya sibuk memeriksa dan mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Ketika iamenyampaikan sebatang rokok sambil menyiapkan apinya kepada Kumaunang, maka secepatkilat tangan letnan yang diulurkan itu ditarik dengan sekuat-kuatnya, badannya condong jatuh kedepan dan setelah tangannya itu diputar, stegun jatuh ke tanah dan kedua pistolnya dapat dilucutoleh Kumaunang. Pada saat itu kawan-kawan lain menyergap perwira itu, mengikat keduatangan kakinya dan menyeretnya ke dalam jeep. Ia dibiarkan dalam keadaan terikat dan di bawah pengawasan, sampai seluruh kampemen tawanan dan penjagaan telah ditertibkan dan dapat berjalan normal kembali, kini di bawah kekuasaan Tentara Nasional Indonesia.Para anggota tentara Belanda lainnya sudah lebih dahulu diangkut secara terpisah dari komandankampemen dengan adanya berita: µ¶Perintah dari korps komandan supaya para perwira dan perwira bawahan harus segera berkumpul di Manado tanpa membawa senjata¶¶.Kemudian rombongan yang dipimpin oleh Kumaunang mengantar Van Emden ke Manado,disusuli rombongan dari Sumanti yang ditugaskan oleh Taulu dengan maksud yang sama.Di sepanjang jalan rakyat menyambut kemenangan ini dengan sorak-sorakan µ¶Hidup Merah
 
Putih¶¶. Dalam kup selama beberapa hari ini semua warga Belanda dari KNIL maupun dari NICA berhasil ditawan. Seorang pengusaha perkebunan Belanda, Van Loon, yang cobamelarikan diri dengan perahu kecil ke Ternate, terpaksa harus kembali di pantai Likupang dan ialangsung menyerahkan diri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar